Learning from Coffee as a Service

Model bisnis baru di era digital ini terus bermunculan. Kalau di sektor IT kita sudah familier dengan “aaS”, as a Service, seperti Infrastructure as a Service (IaaS) atau Software as a Service (SaaS). Tapi bagaimana kalau muncul Coffee as a Service (CaaS)?

Mengutip dari laman dailycoffeenews.com, belum lama ini, Rotterzwam, sebuah perusahaan di Belanda, melaunching CaaS. Alih-alih membeli kopi, dengan model bisnis ini konsumen “menyewa” kopi dan setelah konsumen menikmati minuman kopinya, mereka mengembalikan ampas kopinya kepada Rotterzwam. Ampas kopi tersebut akan digunakan oleh Rotterzwam sebagai bahan baku material untuk lini produk lainnya, seperti untuk bahan bioplastik atau media tanam jamur. Atas pengembalian tersebut, konsumen mendapatkan loyalty point yang bisa digunakan pada pembelian, eh penyewaan kopi berikutnya.

Rotterzwam menerapkan teknologi blockchain sehingga mata rantai perjalanan kopi bisa ditelusuri mulai dari petani sampai dengan pengelolaan ampas kopi. Dengan teknologi ini, konsumen bisa melihat bahwa petani juga memperoleh nilai tambah yang lebih, yakni dari proses roasting dan packaging yang dikelola petani. Konsumen kemudian memperoleh laporan secara periodik atas impact yang dihasilkan, seperti pengurangan emisi CO2, penghematan material packing, penghematan air dan sebagainya.

Hmm, kalau model bisnis kopi bisa dibuat CaaS, kira-kira aaS out of the box apa lagi yang bisa kita buat?

Credit: Infographic by dailycoffeenews.com, featured image by Tyler Nix on Unsplash

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s