Lessons from The Banker

Ada film relatif baru yang layak untuk kita tonton sekarang ini: The Banker. Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari film ini yang diangkat dari kisah nyata. Dari aspek kewirausahaan (entrepreneurship), mengingat saat ini ekonomi sedang berkontraksi akibat pandemi. Sampai aspek kemanusiaan, terkait kondisi terkini Amerika yang tengah kisruh setelah dipicu kasus meninggalnya George Floyd.

Film ini menceritakan Bernard Garret (diperankan oleh Anthony Mackie), seorang kulit hitam yang mengejar kesuksesan di bisnis properti pada lingkungan yang masih sarat dengan rasisme. Dengan modal yang terbatas dan tantangan rasisme, Bernard tetap optimis dan pantang menyerah (Lesson #1). Ia sangat terbantu dengan dukungan penuh istrinya, Eunice (Lesson #2). Bisnis propertinya semakin berkembang setelah bersinergi dengan partner yang tepat (Lesson #3). Partnernya bernama Joe Morris (diperankan oleh Samuel L. Jackson), sahabat lama istri Bernard.

Untuk mengembangkan bisnisnya lebih lanjut, Bernard dan Joe membuat ide out of the box (Lesson #4). Gila! Mereka meng-hire lelaki kulit putih, Matt Steiner (diperankan oleh Nicholas Hoult) sebagai fronting untuk membeli properti yang lebih besar. Bagian ini juga tidak mudah, mereka harus melatih Matt terlebih dahulu (Lesson #5). Dari mulai bermain golf, table manner, sampai kalkulasi properti, agar dapat meyakinkan para juragan. Penampilan yang tepat sangat mempengaruhi sebuah deal bisnis (Lesson #6).

Dengan kekompakan dan kepercayaan (Lesson #7), mereka sukses mendulang cuan lewat investasi properti di Los Angeles. Kiprah mereka sedikit banyak telah mengurangi segregrasi hunian antara kulit hitam dan kulit putih. Sampai kemudian, Bernard memiliki ide untuk mengembangkan bisnis propertinya lebih lanjut, yakni dengan mengakuisisi bank. Dengan memiliki bank, mereka bisa memberikan kredit kepada orang kulit hitam yang di masa itu dianggap mustahil. Semakin besar pohon, semakin besar angin yang menerpanya (Lesson #7). Apalagi ditambah dengan masih kokohnya mindset supremasi kulit putih atas kulit berwarna. Padahal semua manusia itu setara (Lesson #8). Kita semua berasal dari satu kakek nenek yang sama, Adam dan Hawa (Eve). Dan semua orang berhak untuk sukses (Lesson #9).

Dimulai dengan keteledoran Matt, mereka bertiga akhirnya dituntut di pengadilan. Bernard melawan dengan gagah berani. Sampai sekarang ia tetap diingat sebagai salah satu orang yang menyuarakan dengan lantang kesetaraan hak antara kulit putih dan kulit berwarna. Meski kemudian Bernard dan Joe akhirnya masuk penjara. Tapi hidup harus tetap bergerak! (Lesson #10). Dan dalam hidup, tak ada yang benar-benar putih atau hitam sepenuhnya! (Lesson #11).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s